Resensi 9 Summers  10 Autumns


9 Summers  10 Autumns


Judul : 9 Summers  10 Autumns
Pengarang : Iwan Setyawan
Cetakan : ke-14,2013
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka utama
Tebal Buku : 238 lembar

Sinopsis :
Iwan Setyawan lahir di Batu , 2 Desember 1974. Ia merupakan anak lelaki satu-satunya. 4 juli 2001 pukul 2 pagi, ketika Ia sedang menuju kestasiun tiba-tiba ada dua laki-laki yang mencegatnya.  Dan kedua laki-laki itu memaksanya untuk memberikan kartunya dengan menodongkan pisau ketubuhnya yang hanya terlapis T-shirt putih. Dia pun memberikan 120 dollar yang baru dia ambil dari ATM dan memohon agar dirinya dibebaskan. Tetapi, kedua laki-laki itu tetap memaksanya untuk memberikan kartunya. Iwan yang ketakutan hanya bisa memegang dompetnya yang berisi satu debit card dan foto keluarga. Di tengah kepanikan, dia melihat seorang bocah yang memakai baju merah-putih persis seperti seragam SD-nya dulu. Dia hanya menatap anak kecl itu. Sementara anak kecil itu melambaikan tangan dan menghilang. Dengan keberanian yang tersisa dia semakin menggenggam kuat dompetnya. Melihat itu salah satu dari laki-laki itu memukul wajahnya dan dia terjatuh ditrotoar. Laki-laki itu terus melayangkan pukulan. Seketika dia mengingat dapur rumahnya di Batu, tempat mereka berkumpul, makan, berbagi cerita, dan duka. Dia melihat wajah sang ibu, daster tuanya, seragam sang kakak, wajah memelas sang ayah dan adik-adiknya. Tiba-tiba ada ibu yang berteriak dari atas jembatan dan kedua laki-laki itu langsung pergi meninggalkan dia yang terkapar dengan menggengam kuat dompetnya.

Dua hari semenjak kejadian itu, dia melihat bocah kecil itu kembali. Pada sore musing panas, ia berdiri didepan pusat informasi Grand Central Terminal. Dan dia pun mendekati sang bocah kecil tu. Mereka pun menuju ke pusat jajanan di lantai bawah. Bocah itu mengaku kalau dia mengkutinya semenjak dia pindak ke New York. Iwan menanyakan selama ini dia-sang bocah- tinggal dimana. Dan bocah itu bilang itu bukanlah hal yang penting. Dan merek membicarakan kesendirian dan mbak Ati. Meliht bocah itu dia teringat dengan masa kecilnya yang tidak memiliki banyak warna. Hanya ada layar hitam putih TVRI dan lampu redup diruang tamu. Diruangan itu dia mengenal dan mencintai kedua orang tua dan ke-empat saudara perempuannya. Rumah mungil ukuran 6x7 m dan hampir tidak memiliki halaman ini memiliki dua kamar tidur yang digunakan untuk 7 orang, satu ruang tamu kecil, satu dapur, dan satu kamar mandi. Karena menjadi anak laki-laki satu-satunya dia selalu berpindah tempat tidur. Dari kamar ibu-bapak, kamar kakak-nya, ruang tamu, hingga kamar kakek-neneknya di rumah bambu yang berlantaikan tanah disebelah rumah mereka. Ketika SMP dia lebih sering tidur di ruang tamu di depan Tv di atas karpet coklat. Dia mendapatkan ranjang pertama yang dibuat dari bambu dengan ukuran 0,5x1,5 meter dari sang bapak. Dia dapat merasakan hati sang bapak di atas ranjang itu. Tak terasa sudah pukul 9, dan mereka berpisah.

Dari sekian apartement yang ditempatinya, akhirnya dia pun mendapatkan yang paling nyaman,sebuah studio kecil di Sullivan Street. Setiap pulang kerja atau akhir pekan,bocah itu sering mengunjunginya.
Kedua orang tuanya, pak Prawira Dikra,a,petani padi yang menikah dengan Bu Tunikem, ibu rumah tangga yang kadang menjual tempe tahu dan kadang membantu bertani. Keduanya tidak pernah duduk di bangku sekolah. Sang bapak merupakan anaak ke 6 dari 9 bersaudara. Pada umur 7 bulan dia dibawa ke Malang oleh adik sang bapak. Ketika SMP sang bapak setiap pulang sekolah bekerja menjadi kenek angkot. Cerita itu kerap menghantui pikiran iwan. Sayangnya sang bapak putus sekolah karena tidak adanya biaya. Ia hanya merasakan pendidkan hingga kelas 2 SMA dan memutuskan menjadi kenek Angkot. Setiap hari sang bapak mulai dari jam 6 pagi hingga 4 sore. Dan pulang dengan membawa 5 rupiah. Tahun 1969, sang bapak pun mendapatkan SIM dan mulai menjadi supir angkot. Bertahun-tahun sang bapak menjadi supir angkot dan menbung. Akhirnya ia dapat membeli mobil bekas seharga 20 juta. Terkadang mereka ikut sang bapak ke Malang. Sang bapak tumbuh bersama asap hingga 2005,sepanjang 36 tahun. Sang bapak sempat mendekap dipenjara karena menabrak Vespa. Tak ada uang angkot sang ibu harus menjual piring, baju bekas atau mencari pinjaman.
Ketika sang bapak masuk sel di Kompleks Penjara Lowokwaru, sag ibu teru berusaha menghidupi dirinya, Mbak Isa, dan bayi yang ada dikandungannya dengan menggadaikan baran yang masih tersisa dirumah. Semenjak itu, sang bapak menjadi sosok yang tempermental. Ia sempat berkenalan dengan minuman keras.
Sang ibu lahir di Batu,10 mei 1953. Ia anak pertama dari 7 bersaudara. Sang kakek-dari ibu- merupakan mantan polisi yang pernah berlayar ke Mekah. Iwan sering bermain ke rumah kakek dan nenek. Bagi mereka untuk belajar merupakan hal yang sulit. Karena rumahnya yang kecil ditempati 7 orang belum lagi dengan kedatangan tentangga yang menumpang menonton tv. Seriang kali dia memesan ibu atau bapaknya ungtuk membangunkan pukul 3 pagi. Jika mereka ketiduran dan tidak membangunkannya, dia menyalahkan mereka.
Sang nenek dan kakek meninggal pada usia 69 tahun dan 70 tahun. Sang nenek diduga meninggal karena kanker rahim. Sementara sang kakek diduga menderita parkison.
Setelah bersekolah di SD Ngaglik I, ia mulai mengenal dunia di luar rumah kecilnya setelah “terikat” di sana semasa TK. Ia adalah anak rumahan yang pemalu, suka bermain dengan buku-buku pelajaran. Di bidang akademik ia cukup menonjol. Memasuki SMP, tantangan yang  dihadapi semakin jelas sebagai anak laki-laki satu-satunya yang harus menghidupi keluarganya kelak. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan di SMA Negeri I Batu. Di sana ia mulai menekuni dunia teater, dan pribadinya mulai terbentuk. Ia mendayung perahu kecilnya sendiri mengarungi samudera kehidupannya. Mencoba untuk mulai percaya diri, ia berteman baik dengan beberapa orang. Sukses yang pernah ia raih tak lekas berhenti. Ia tetap mempertahankan prestasinya meski mulai memberikan les privat setiap sore. Iwan mendapat PMDK di Institut Pertanian Bogor Jurusan Statistika lalu bertolak ke Bogor berbekal pesangon dari orang tua murid lesnya.
Terpisah jauh dari keluarganya yang hangat membuat Iwan tak kuasa menahan keinginannya untuk pulang ke kaki Gunung Panderman, namun nasehat tulus sang ibu 
menguatkannya. Ia sempat menumpang di kos salah satu kakak kelasnya sebelum menemukan kos di daerah Bapeund. Selama masa kuliah, selain berusaha menekan kerinduannya akan rumah,ia juga berjuang mengatur keuangan. Iwan juga harus melewati persaingan tajam untuk mempertahankan posisinya di IPB. Pada Tahap Persiapan Bersama (TPB), Iwan berhasil memperoleh IP 3,3. Memulai “masa sesungguhnya” di bangku kuliah setelah TPB, ia memasuki dunia baru dengan musik, puisi, ritual dan spiritual baru, serta sahabat baru. Semasa KKN Iwan berkunjung ke berbagai tempat, seperti Yogyakarta, Pasuruan, Banyuwangi, bahkan Bali. Dalam menghadapi krisis ekonomi ketika kedua orang tuanya harus membiayai kuliah Inan dan Iwan sekaligus, Iwan sempat meminjam dana ke pamannya di Jakarta. Ia kagum dengan dunia bisnis yang begitu kentara di sana, tak menyangka bahwa kelak ia akan bekerja di salah satu gedung yang pernah ia lihat, di kantor Nielsen, Jakarta.
Lulusan terbaik fakultas MIPA IPB 1997 dari Jurusan Statistika dengan IPK 3. 52 ini ditawari kakak kelasnya di Jurusan Statistika untuk bekerja sebagai data analis di kantornya. Ia pun lolos seleksi dan memulai karir pertamanya di Nielsen Jakarta. Ia begitu bahagia dapat membagikan sedikit gajinya kepada keluarganya. Walau sempat merasa “kecil”, semangatnya untuk memberikan yang terbaik tak pernah surut. Hal ini mendorongnya menjadi seorang profesional hingga mendapatkan penghargaan Employee of The Month. Beberapa saat kemudian ia bekerja di Danareksa Research Institute pada posisi yang sama, namun hal tersebut tak bertahan lama karena rekan kerjanya di Nielsen Jakarta membawa kabar bahwa Iwan ditawari untuk bekerja di Nielsen New York sebagai data processing executive. Setelah melalui tahap interview, ia pun menerima kabar bahwa ia diterima bekerja di sana. Begitu terharu dan bangga, ia pun terbang ke New York dan terpukau dengan kehidupan di sana. Ia bekerja di sebuah kantor di Starbucks Astor Place di 770 Broadway.
Dan setelah merantau di negeri asing selama 10 tahun, melewati 9 musim panas dan 10 musim gugur, Iwan mengundurkan diri dari Nielsen, meninggalkan posisi terakhirnya sebagai direktur untuk kembali pulang ke Batu. Pulang kepada rumahnya.
Sekian resensi 9 Summers  10 Autumns , terima kasih telah membaca.


Komentar

Postingan Populer